CAUTION

Blog Project deadline is 15 February 2010 at 00.00<> (WIB Times). Jangan lupa setiap anggota kelompok diwajibkan untuk memasukkan paling sedikit 5 (lima) postingan mengenai IT Category dengan ketentuan seperti yang sudah dijelaskan pada saat praktikum Komputer yang lalu.

Blog ini Wajib memiliki fasilitas-fasilitas:

  1. Cita Hati Logo
  2. Search Blog
  3. Blog Category (Blog Labels or Label Cloud or Blogumus)
  4. About this Blog (Nama anggota2 kelompok + foto)
  5. ShoutBox
  6. Blogroll (isikan alamat blog/url kelompok2 yang lain)
  7. Latest Post
  8. Latest Comments
  9. Polling (sesuaikan dengan tema field trip)
  10. Blog/Web Counter (Ex : Histat)

Bonus Point :

Jika ada pertanyaan silakan contact saya di : mmeinardi@yahoo.com atau di twitter

 

With God's Love

Enter The Blog

Kebangkitan Iptek Indonesia

[Kompas, Rabu, 20.7.2005; Oleh Arief. B. Witarto] Selain Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh tanggal 20 Mei, Indonesia sudah punya Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang diperingati setiap 11 Agustus. Beberapa tahun lalu, peraturan berupa undang-undang yang mengatur sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) nasional juga sudah disahkan.

Kalau sebelumnya Menteri Negara Riset dan Teknologi adalah politisi, sekarang teknokrat dari perguruan tinggi ternama negeri ini. Lalu, apa yang kurang untuk menunggu kebangkitan iptek yang sesungguhnya?

Banyak kebijakan baru yang telah diluncurkan Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi sebagai koordinator lembaga-lembaga pemerintah yang melakukan penelitian, seperti LIPI, BPPT, Batan, Lapan, dan Bakosurtanal, maupun yang mencuat dari pandangan para wakil rakyat di Komisi VII DPR yang membidangi masalah iptek.

Antara lain yang menonjol adalah penajaman fokus bidang iptek yang diprioritaskan maupun pengurangan tumpang tindih penelitian. Semuanya masih dalam tataran makro, sementara pembenahan di tingkat mikro seperti pemberdayaan peneliti, belum terdengar.

”Floating mass”

Salah satu alasan yang sering diungkapkan mengapa riset iptek kita tertinggal adalah belum adanya critical mass peneliti yang mencukupi. Memang tidak ada angka baku berapa jumlah minimum peneliti agar suatu bidang ilmu dapat dikembangkan dengan baik.

Tak dimungkiri, dibandingkan negara maju, jumlah per kapita peneliti kita jauh lebih sedikit. Namun, di lain pihak, ada joke bila jalan di kampus-kampus PT terdepan kita, seperti UI, IPB, ITB, dan UGM, semeter melangkah saja sudah ketemu doktor.

Itu pun bukan sembarang doktor karena mayoritas doktor kita belum produksi dalam negeri, tetapi alumni universitas luar negeri. Demikian pula di lembaga penelitian pemerintah, jumlah staf peneliti bergelar doktor tidak bisa dibilang sedikit, dari yang di daerah sampai yang di kota besar.

Ketika berkesempatan mengunjungi pusat-pusat riset bioteknologi di negara berkembang Kuba bersama rombongan Tim Kedokteran Indonesia tahun lalu, kami tercengang mendengar penjelasan bahwa sebagian besar lembaga penelitian yang mengembangkan bioteknologi kedokteran itu hanya memiliki peneliti bergelar doktor tak lebih dari jumlah jari tangan, itu pun sudah mayoritas alumni perguruan tinggi sendiri.

Namun, kalau tidak menghasilkan keuntungan jutaan dollar AS per tahun, paper ilmiah di jurnal internasional ber-impact factor tinggi atau paten di negara maju pun bukan satu-dua jumlahnya.

Jadi, jumlah bukan masalah. Hanya saja, di Indonesia bukan critical mass yang diperoleh, melainkan floating mass. Seperti buih di lautan, jumlahnya banyak tetapi tidak menciptakan agregat yang mampu menggulirkan roda kemajuan iptek.

Bukan kerajaan

Perkembangan iptek yang semakin mendalam membutuhkan satuan agregat peneliti yang secara kontinu mengembangkannya. Itulah Lab. Jangan dikira, Lab tidak ada di Indonesia.

Lab di Indonesia, baik di perguruan tinggi maupun lembaga penelitian, baru sebatas kumpulan alat dalam ruangan tertentu yang diketuai oleh seorang kepala yang berwenang sebatas mengatur agar penggunaan alat tidak bertabrakan.

Jelas beda dengan konsep Lab di negara maju iptek di mana Lab adalah ujung tombak pengembangan iptek yang dipimpin oleh kepala yang punya visi mengembangkan ilmunya. Ary Mochtar Pedju dalam opininya membedakan keduanya dengan menyebut ”lab” dengan huruf ”l” kecil untuk versi Indonesia dan ”Lab” dengan huruf ”L” besar untuk yang sebenarnya (Kompas, 12/12/2002).

Yang terjadi di lembaga penelitian Indonesia misalnya, bila seorang staf peneliti ingin melakukan penelitian, dia membentuk kelompok penelitian yang anggotanya bisa direkrut dari sesama staf peneliti atau mahasiswa perguruan tinggi yang mengerjakan tugas akhirnya.

Keanggotaan kelompok ini sangat lentur, tidak ada ikatan apa pun kecuali keinginan untuk mengerjakan sesuatu bersama. Karena itu, bila dana penelitian selesai—yang di Indonesia normalnya paling lama tiga tahun—kelompok penelitian itu pun dengan mudah bubar, untuk kembali para penelitinya mencari topik baru dan membentuk kelompok baru pula.

Dengan demikian, wajarlah bila sangat sedikit penelitian di Indonesia berjalan kontinu dan tuntas.

Di negara maju iptek dan punya sejarah panjang pengembangan ipteknya, seperti AS dan Eropa, pembentukan Lab sudah menjadi budaya. Bila perguruan tinggi atau lembaga penelitian ingin mengembangkan ilmu tertentu, direkrut staf baru yang diberikan ruangan, fasilitas, dan dana awal untuk melakukan riset satu tahun. Dengan modal ini, staf baru itu akan mulai membangun Lab-nya.

Bila riset berjalan lancar, publikasi ilmiah dihasilkan, dana riset pun dapat diperoleh dari pihak luar perguruan tinggi sehingga mulai bisa mempekerjakan mahasiswa atau tenaga honorer. Demikian, berlanjut sehingga terbentuklah Lab yang kokoh.

Di Jepang yang belajar dari Barat, Lab dibentuk secara administrasi sistematis. Ketika ada kemauan mengembangkan iptek tertentu, Lab segera dibentuk dengan diisi oleh seorang profesor sebagai kepalanya, dibantu seorang associate professor dan beberapa asisten maupun mahasiswa.

Ketika keinginan peneliti membentuk Lab akan diwujudkan di Indonesia, kendalanya, pertama, sistem seperti di Jepang tidak ada. Kedua, budaya untuk membentuknya seperti di AS atau Eropa juga tidak ada. Karena itu, bila seorang peneliti yang bervisi membentuk kelompok, sering kali dianggap membuat ”kerajaan”.

Mengarahkan misi untuk mencapai visi oleh ketua kelompok, diterima bak perintah atasan kepada bawahan oleh anggotanya, padahal secara administrasi tidak ada bedanya staf peneliti satu dengan yang lain dalam sebuah kelompok. Kerajaan diturunkan. Namun, tidak ada ceritanya, seorang Einstein sampai Watson mewariskan kekuasaannya terhadap Lab-nya kepada anak-cucunya.

Budaya ilmiah

Apa ruginya Indonesia tidak punya Lab? Tidak semua bagian ilmu dapat dipelajari dari buku. Justru sebagian besar pengetahuan yang paling penting diperoleh dari pengalaman berguru kepada seorang empu. Mulai dari know-how dalam eksperimen yang diperoleh dari pengalaman berulang sampai filosofi pengembangan ilmu seorang ilmuwan besar didapat hanya bisa dari bekerja di Lab-nya.

Wajar, Hadiah Nobel seperti diturunkan, tidak sedikit penerimanya memiliki hubungan guru-murid di Lab, baik pada bidang fisika, kimia, maupun kedokteran.

Makanya, sikap terhadap ilmu ini disebut ”budaya”, budaya ilmiah. Karena mendarah daging, benar-benar diresapi sebab diturunkan langsung dari yang lebih berilmu kepada anak didiknya, dan seterusnya. Tidak mengherankan pula budaya ilmiah kita masih lemah.

Plagiarisme merajalela mulai dari tingkat penelitian mahasiswa sampai calon profesor. Tidak ada tempat di Indonesia, seorang calon peneliti menimba ilmu sekaligus menghirup udara ilmiah yang meresap sampai ke darah dagingnya.

Peneliti Indonesia yang sudah eksis lebih dari 10 tahun dengan karya-karya yang diakui di tingkat nasional dan internasional, bila diamati, dikunjungi tempat kerjanya dan dirasakan suasananya, tidak beda dengan Lab dalam pengertian sebenarnya.

Melewati berbagai rintangan seperti di atas, manusia-manusia luar biasa (extraordinary) ini dapat terus berkarya berkat sistem Lab yang berhasil dibangunnya. Namun, jangan berharap Indonesia berlari mengejar ketertinggalan iptek bila hal seperti ini tidak disistematisasikan seperti Jepang. Dari sinilah seharusnya kebangkitan iptek Indonesia dimulai.

By: Eunike Lovely
Source: http://witarto.wordpress.com/2008/01/15/kebangkitan-iptek-indonesia/
Read more...

Read Users' Comments (0)

Betapa Hebatnya Kota Surabaya

Surabayaku…
Kota sura dan baya…
Kota Pahlawan di mana para pejuang Indonesia
Merebut kemerdekaan dari para penjajah…
Surabaya…
Kota yang damai…
Kota yang banyak terdapat tempat-tempat yang indah…
Kota yang bersih dan hijau…
Read more...

Read Users' Comments (0)

Perkembangan Ekonomi Indonesia

Perkembangan Ekonomi di Indonesia
Gambar 1
menurut kami mengenai gambar diatas adalah
bahwa perkembangan ekonomi diindonesia belum sepenuh nya maju
sebagian orang masih bekerja sebagai pedagang kaki lima yang memakan trotoar berjalan
kondisi didaerah para pedagang pun masih tidak menentu.

Gambar 2
berdasarkan gambar ke2 dapat disimpul kan perekonomian diindonesia membaik
dengan adanya sarana pekerjaan,

Gambar 3
dari gambar diatas dapat disimpulkan keramaian didaerah pertokoan di indonesia
ramai nya daerah daerah pertokoan dapat menaikan tingkat ekonomi negara

Gambar 4
dari gambar ketiga ini dapat dilihat daerah kalangan bawah diindonesia
yang masi takmemiliki tempat tinggal yang layak bisa dilihat bahwa sistem perekonomian
diindonesia belum sepenuhnya terbuka bagi segala kaum dan tingkattan

Gambar 5

dari gambar diatas dapat kita simpulkan, terdapat bagian daerah diindonesia yang memiliki
sistem ekonomi yang maju dimana terbuka nya lapangan pekerjaan yang luas dan banyak
yang dapat menaikan pamor para penduduk indonesia,
dengan begitu dapat kita simpulkan sistem ekonomi yang membaik


Gambar 6
dari gambar kali ini dapat dillihat dimana sebuah truck sedang memindahkan muatan nya kedalam toko,dimana kita taubahwa sistem perekonomian di indonesia kian membaik
dengan ramai nya daerah perdagangngan

Gambar 7
dapat terlihat juga digambar ini bahwa terjadi perbedaan yang besar antar satu orang dan yang lain nya bisa dilihat seorang yang memiliki uang dengan mobil mewah nya
sedangkan seorang pekerja hanya dengan sepeda nya.
yang membuktikan bahwa sistem ekonomi diindonesia kian membaik

gambar 8
keramaian didaerah sentral kota kembangjepun dapat dilihat dengan ramai nya angkutan umum
hal yang merupakan salah satu sumber penghasilan yang paling sering digunakan oleh kaum menengah dan jg dapat didilihat sistem perekonomian yang membaik dengan banyak nya pekerja jasa.

Gambar 9
dari gambar diaas bisa dilihat daerah perkotaan diindonesia yang ramai dan padat
dimana terlihat juga aktifitas para pekerja yang sedang melakukan pekerjaan mereka
kita bisa melihat ada nya perbaikan ditingkat ekonomi indonesia dimana ramai nya pekerjaan masi berada


Gambar 10
dapat dilihat digambar ini sebuah bank, bank yangsedang beroperasi
dimana terdapat beberapa nasabah yang datang
bisa disimpulkan bahwa sistem perekonomian diindonesia kian membaik dari waktu ke waktu



Read more...

Read Users' Comments (0)

CH9 News~
RUSIA DIINVASI OLEH ALIEN?
FAUNA ANEH DI PARIT RUSIA
Sesosok hewan aneh ditemukan di sebuah parit di wilayah Chelyabinsk, Rusia.
Hewan ini memilik cangkang yang seperti mangkuk,  ekor yang panjang seperti trenggiling, dan seluruh tubuhnya berlendir. Mungkin saja lendir itu berasal dari parit, dan mungkin tidak. Ketika dibalik, hewan ini memiliki banyak kaki, dan memiliki struktur yang mirip fosil. Ketika sudah beberapa saat dibalik, hewan ini sepertinya tidak suka, dan mulai bergerak an menggeliat (terutama ekornya).
Ada beberapa otrang dan ilmuwan dan ahli biologi yang mengatakan bahwa hewan ini sejenis horseshoe crab, dan ada yang mengatakan bahwa hewan ini adalah Triops (udang kecebong). Tetapi para ilmuwan belum benar-benar yakin karena selama ini, horseshoe crab yang ditemukan oleh para ilmuwan memiliki beberapa sisik di bagian belakang yang dekat dengan ekor, dan berwana kehitaman, bukan kecokelatan seperti pada gambar.
Sedangkan dengan Triops, ia memiliki antenna dan ekor yang membelah menjadi 2. Triops biasanya berwarna kemerah-merahan, cokelat muda, hijau muda ,dan ada yang berwarna kuning tembus pandang. Dan ada juga, dalam kasus tertentu, Triops memiliki warna cokelat tua, dengan ekor berwarna cokelat muda.



Opini: Menurut kami, hewan ini adalah hewan yang unik karena di Indonesia kita tidak pernah melihatnya, dan menurut kami hewan ini adalah hewan yang sudah tua sekali dan mungkin saja hewan ini tidak berevolusi.

Pemimpin redaksi: Cecilia Angelina Christian
Wakil pemimpin redaksi: Steven Setyono
Reporter: Lulu Natalie Arifin
Layout: Steven Setyono dan Cecilia Angelina Christian

Read more...

Read Users' Comments (0)

Kunjungan ke Tugu Pahlawan

Pada 12 Januari kami berkunjung ke Tugu Pahlawan untuk acara field trip dan kami mengumpulkan beberapa data dan cerita tentang perjuangan pemuda Surabaya dalam mengusir penjajah



Masuknya Tentara Inggris Belanda
Rakyat dan para pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada 25 Oktober. Tentara Inggris didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan atas nama Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Tetapi, selain itu, tentara Inggris juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris. Itulah yang meledakkan kemarahan rakyat Indonesia di mana-mana.
Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya
Setelah munculnya maklumat pemerintah tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Merah Putih dikibarkan terus di seluruh Indonesia, gerakan pengibaran bendera makin meluas ke segenap pelosok kota.
Di berbagai tempat strategis dan tempat-tempat lainnya, susul menyusul bendera dikibarkan. Antara lain di teras atas Gedung Kantor Karesidenan (kantor Syucokan, gedung Gubernuran sekarang, Jl Pahlawan) yang terletak di muka gedung Kempeitai (sekarang Tugu Pahlawan), di atas gedung Internatio, disusul barisan pemuda dari segala penjuru Surabaya yang membawa bendera merah putih datang ke Tambaksari (lapangan Gelora 10 November) untuk menghadiri rapat raksasa yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Surabaya.
Saat itu lapangan Tambaksari penuh lambaian bendera merah putih, disertai pekik 'Merdeka' mendengung di angkasa. Walaupun pihak Kempeitai melarang diadakannya rapat tersebut, namun mereka tidak berdaya menghadapi massa rakyat yang semangatnya tengah menggelora itu. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru/Hotel Yamato atau Oranje Hotel, Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.
Mula-mula Jepang dan Indo-Belanda yang sudah keluar dari interniran menyusun suatu organisasi, Komite Kontak Sosial, yang mendapat bantuan penuh dari Jepang. Terbentuknya komite ini disponsori oleh Palang Merah Internasional (Intercross). Namun, berlindung dibalik Intercross mereka melakukan kegiatan politik. Mereka mencoba mengambil alih gudang-gudang dan beberapa tempat telah mereka duduki, seperti Hotel Yamato. Pada 18 September 1945, datanglah di Surabaya (Gunungsari) opsir-opsir Sekutu dan Belanda dari Allied Command (utusan Sekutu) bersama-sama dengan rombongan Intercross dari Jakarta.
Rombongan Sekutu oleh Jepang ditempatkan di Hotel Yamato, Jl Tunjungan 65, sedangkan rombongan Intercross di Gedung Setan, Jl Tunjungan 80 Surabaya, tanpa seijin Pemerintah Karesidenan Surabaya. Dan sejak itu Hotel Yamato dijadikan markas RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees, Bantuan Rehabilitasi untuk Tawanan Perang dan Interniran).
Karena kedudukannya merasa kuat, sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan hari ketika pemuda Surabaya melihatnya, seketika meledak amarahnya. Mereka menganggap Belanda mau menancapkan kekuasannya kembali di negeri Indonesia, dan dianggap melecehkan gerakan pengibaran bendera yang sedang berlangsung di Surabaya.
Begitu kabar tersebut tersebar di seluruh kota Surabaya, sebentar saja Jl. Tunjungan dibanjiri oleh rakyat, mulai dari pelajar berumur belasan tahun hingga pemuda dewasa, semua siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Massa terus mengalir hingga memadati halaman hotel serta halaman gedung yang berdampingan penuh massa dengan luapan amarah. Agak ke belakang halaman hotel, beberapa tentara Jepang tampak berjaga-jaga. Situasi saat itu menjadi sangat eksplosif.
Tak lama kemudian Residen Sudirman datang. Kedatangan pejuang dan diplomat ulung yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, menyibak kerumunan massa lalu masuk ke hotel. Ia ingin berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawan. Dalam perundingan itu Sudirman meminta agar bendera Triwarna segera diturunkan.
Ploegman menolak, bahkan dengan kasar mengancam, "Tentara Sekutu telah menang perang, dan karena Belanda adalah anggota Sekutu, maka sekarang Pemerintah Belanda berhak menegakkan kembali pemerintahan Hindia Belanda. Republik Indonesia? Itu tidak kami akui." Sambil mengangkat revolver, Ploegman memaksa Sudirman untuk segera pergi dan membiarkan bendera Belanda tetap berkibar.
Melihat gelagat tidak menguntungkan itu, pemuda Sidik dan Hariyono yang mendampingi Sudirman mengambil langkah taktis. Sidik menendang revolver dari tangan Ploegman. Revolver itu terpental dan meletus tanpa mengenai siapapun. Hariyono segera membawa Sudirman ke luar, sementara Sidik terus bergulat dengan Ploegman dan mencekiknya hingga tewas. Beberapa tentara Belanda menyerobot masuk karena mendengar letusan pistol, dan sambil menghunus pedang panjang lalu disabetkan ke arah Sidik. Sidik pun tersungkur.
Di luar hotel, para pemuda yang mengetahui kejadian itu langsung merangsek masuk ke hotel dan terjadilah perkelahian di ruang muka hotel. Sebagian yang lain, berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Sudirman turut terlibat dalam pemanjatan tiang bendera. Akhirnya ia bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang kembali. Massa rakyat menyambut keberhasilan pengibaran bendera merah putih itu dengan pekik "Merdeka" berulang kali, sebagai tanda kemenangan, kehormatan dan kedaulatan negara RI.
Kemudian meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris pada 27 Oktober 1945. Serangan-serangan kecil itu ternyata dikemudian hari berubah menjadi serangan umum yang hampir membinasakan seluruh tentara Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.
Kematian Brigadir Jenderal Mallaby
Setelah diadakannya gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Tetapi walau begitu tetap saja terjadi keributan antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Inggris di Surabaya, memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945. Mobil Buick yang sedang ditumpangi Brigjen Mallaby dicegat oleh sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Karena terjadi salah paham, maka terjadilah tembak menembak yang akhirnya membuat mobil jenderal Inggris itu meledak terkena tembakan. Mobil itu pun hangus.
Ultimatum 10 November 1945
Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi para pejuang dan rakyat umumnya. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.
Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Sebab, Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri (walaupun baru saja diproklamasikan), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara juga telah dibentuk.
Selain itu, banyak sekali organisasi perjuangan yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar. Badan-badan perjuangan itu telah muncul sebagai manifestasi tekad bersama untuk membela republik yang masih muda, untuk melucuti pasukan Jepang, dan untuk menentang masuknya kembali kolonialisme Belanda (yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia).
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang.
Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk.
Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak.
Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama' serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) juga ada pelopor muda seperti Bung Tomo dan lainnya. Sehingga perlawanan itu bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris.
Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Pidato Bung Tomo
Bismillahirrohmanirrohim..
MERDEKA!!!
Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia
terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya
kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini
tentara inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet
yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua
kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara jepang
mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan
mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera puitih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka
Saudara-saudara
di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan
bahwa rakyat Indonesia di Surabaya
pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku
pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi
pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali
pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan
pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera
pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di surabaya ini
di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing
dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung
telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol
telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana
hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara
dengan mendatangkan presiden dan pemimpin2 lainnya ke Surabaya ini
maka kita ini tunduk utuk memberhentikan pentempuran
tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri
dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya
Saudara-saudara kita semuanya
kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini
akan menerima tantangan tentara inggris itu
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya
ingin mendengarkan jawaban rakyat Indoneisa
ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indoneisa yang ada di Surabaya ini
dengarkanlah ini tentara inggris
ini jawaban kita
ini jawaban rakyat Surabaya
ini jawaban pemuda Indoneisa kepada kau sekalian
hai tentara inggris
kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu
kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu
kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita
untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada
tetapi inilah jawaban kita:
selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah! keadaan genting!
tetapi saya peringatkan sekali lagi
jangan mulai menembak
baru kalau kita ditembak
maka kita akan ganti menyerang mereka itukita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka
Dan untuk kita saudara-saudara
lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka
semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita yakin saudara-saudara
pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah saudara-saudara
Tuhan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
MERDEKA!!!



Read more...

Read Users' Comments (0)

Kunjungan ke Candirejo

Untuk tujuan pertama ,kami berkunjung ke desa Candirejo dan kami mengadakan beberapa wawancara kepada warga yang tinggal disana tentang kegiatan daur ulang yang mereka lakukan di sana dan juga tentang hubungan antar warga di kampung tersebut.dan berikut ini adalah hasilnya
Di kampung bersih



•    Mata pencaharian
  o    Bu Saidah : tidak ada pekerjaan, kadang pembinaan dinas pertanian menjadi dinas pertanian jahe instan.
  o    Bu Meme : membuka toko kecil
  o    Bpk. Subri : wiraswasta
  o    Bu Rini : wiraswasta
  o    Bu Wiwik : Ibu rumah tangga
•    Hubungan Sosial antar warga
  o    Baik, cukup baik
  o    Baik-baik semua,tidak tergantung ras
  o    Kebersamaan gotong royong
  o    Bersatu
  o    Tidak ada konflik yang berkepanjangan, karena lebih sering berkumpul seperti meeting.                            

Jenis SDA yang di kelola di Desa Candirejo
•    Toga
•    Sampah
Proses/Tahap pengolahan
Karena waktu yang terbatas kami Cuma mendapatkan beberapa penjelasan tentang pembuatan produk yang ada di desa ini,antara lain adalah:
Manisan Jahe
Dicuci>Jahe diiris tipis-tipis >dicuci>diberi gula,air,lalu diaduk>Ditunggu keringnya>Selesai
Pupuk Compost
Sisa sayur belum masak dimasukan ke gentong pembusukan selama 3 hari,lalu jadi pupuk compost
Pupuk Cair
Sisa makanan basah(cth:Sayur Asem,sop buntut,dll) dimasukan ke compost bin,lalu di diamkan beberapa hari,dan sudah jadi.

Hasil Produksi
•    Jamu Instan
•    Manisan kencur
•    Manisan jahe
•    Pupuk cair
•    Kue-basah,kering
•    Pupuk kompos
•    Selai belimbing

Dampak dari produksi di atas:
(+)
•    Sampah berkurang
•    Menambah penghasilan

(-)
•    Tidak ada
Hambatan selama produksi
Pada awal-awalnya susah,karena ibu-ibu disini masih dilatih,tapi lama kelamaan bisa.
Solusi
Kegiatan daur ulang disosialisasikan lebih luas lagi diatara masyarakat,supaya masalah sampah bisa teratasi.
Kesimpulan
Dari kunjungan yang kami lakukan ini,kami menemukan berbagai macam cara pengolahan SDA yang beragam,mulai dari tanaman sampai sampah.Bisa kita simpulkan bahwa hamper semua benda itu tidak akan kehabisan fungsi dan tugasnya di dunia ini,dan semua barang bisa kita manfaatkan ulang menjadi berbagai macam bentuk baru dan fungsi yang baru,kit ahanya perlu mempelajari cara pengolahan nya saja,dan juga harus rajin dalam melaksanakan proses pendaurulangan itu


Read more...

Read Users' Comments (0)

Kunjungan ke Surabaya Post


Dari kunjungan kami ke Surabaya Post,kami jadi mengerti bagaimana sebuah koran dikerjakan,mulai dari peliputan berita sampai ke penerbitan koran tersebut
dan berikut ini sedikit penjelasan nya



    Struktur  di bagi menjadi 2:
Redaksi  =  yang merancang dan membuat Koran.
Usaha  
    Iklan
    Sirkulasi  -> langganan atau eceran
    Off print activities 
   

Gaji didapat dari:
    Kantor berita
    Biaya liputan
    Biaya SDM / pengembangan koran 

Kekuatan Media

Jika mau mengirim reporter ke tempat-tempat seperti perang, di kasih tunjangan.
JIka salah satu reporternya di sekap, mereka harus terus berusaha menyelamatkan reporternya.



Read more...

Read Users' Comments (0)